Mendobrak Kebekuan Lab: Mengapa Model Praktikum TPASK-C Adalah Masa Depan Efikasi Guru Biologi

Mendobrak Kebekuan Lab: Mengapa Model Praktikum TPASK-C Adalah Masa Depan Efikasi Guru Biologi

Djohar Maknun. 5 Oktober 2025.

Tantangan terbesar dalam melahirkan guru Biologi yang cemerlang bukanlah terletak pada penguasaan hafalan materi genetika atau ekologi, melainkan pada keyakinan diri mereka—efikasi diri—untuk benar-benar melakukan sains dan menularkannya. Guru yang hanya mampu menjelaskan teori tanpa pernah merasakan getaran eksperimen, tanpa berani merancang penelitian yang orisinal, akan menghasilkan siswa yang pasif. Model praktikum dengan pendekatan Technological Pedagogical and Science Knowledge-Contextual (TPASK-C) hadir sebagai sebuah lompatan metodologis yang tegas, bukan sekadar penambahan akronim baru, melainkan sebuah desain instruksional yang secara inheren mengawinkan pengetahuan subjek Biologi, keterampilan mengajar, integrasi teknologi, dan penempatan dalam konteks dunia nyata. Inilah tesis sentralnya: TPASK-C adalah katalisator esensial yang secara fundamental meningkatkan efikasi diri calon guru Biologi sekaligus mengasah ketajaman keterampilan penelitian mereka, menjadikannya model praktikum yang paling relevan untuk menjawab tuntutan pendidikan abad ke-21.

Melihat kembali masa-masa kuliah, kita sering menyaksikan praktik laboratorium yang terasa bagai ritual memasak—ikuti saja langkah-langkah dalam buku panduan, masukkan bahan, tunggu hasilnya, dan jangan tanya mengapa.

       

Aktivitas semacam ini, meski menghasilkan data, gagal memicu pemikiran yang dalam dan, yang lebih parah, tidak menumbuhkan rasa kepemilikan. TPASK-C memecah siklus pasif ini. Ia memaksa calon guru untuk tidak hanya memahami materi (Ilmu Pengetahuan Alam/IPA), tetapi juga untuk menentukan bagaimana teknologi (T) dapat digunakan paling efektif untuk mengajarkan (P) konsep tersebut, dan yang terpenting, bagaimana seluruh proses itu harus dikontekstualisasikan (C) agar relevan dengan kehidupan siswa kelak. Ini adalah pergeseran dari sekadar ‘tahu cara’ menjadi ‘tahu mengapa dan bagaimana seharusnya’.

Peningkatan efikasi diri, yaitu keyakinan seseorang akan kemampuannya untuk berhasil dalam suatu tugas, adalah inti dari keberhasilan TPASK-C. Ketika seorang calon guru diberi tugas untuk merancang penelitian tentang dampak pencemaran sungai lokal pada keragaman hayati (kontekstual) menggunakan sensor digital dan perangkat lunak analisis data (teknologi), ia tidak hanya belajar tentang Biologi air, tetapi juga mengalami proses penelitian yang autentik. Pengalaman sukses ini—pengalaman penguasaan—adalah sumber efikasi diri yang paling kuat. Djohar Maknun, seorang peneliti yang banyak mengkaji isu ini, menunjukkan bahwa TPASK-C secara signifikan meningkatkan efikasi diri calon guru, khususnya dalam merencanakan pembelajaran, yang merupakan jantung dari profesi keguruan.

Keterampilan penelitian—kemampuan untuk merumuskan masalah, merancang metodologi, mengumpulkan, menganalisis, dan menyimpulkan data—seringkali diajarkan sebagai mata kuliah terpisah, terasa terputus dari praktik sehari-hari di laboratorium. Dalam TPASK-C, penelitian menjadi tulang punggung praktik. Studi kasus yang didukung oleh sumber daya, seperti yang ditemukan dalam artikel akademis yang relevan yang membahas kerangka TPASK-C, memperkuat bahwa model ini membenamkan calon guru dalam proses yang tidak linear, yang jauh lebih menyerupai penelitian ilmiah sesungguhnya. Mereka belajar menghadapi variabel yang tak terduga, menganalisis data yang ‘kotor’ dari lapangan, dan mengomunikasikan temuan dengan alat digital. Misalnya, ketika saya berdiskusi dengan seorang guru muda di Bandung yang baru lulus, ia bercerita bahwa ia berhasil memenangkan dana penelitian sekolah karena ia terbiasa merancang studi yang dapat diaplikasikan, keterampilan yang ia dapatkan dari model praktikum yang berorientasi pada riset, bukan dari kuliah metodologi semata.

Lebih jauh lagi, komponen Kontekstual (C) dalam TPASK-C memberikan landasan moral dan praktis pada penelitian. Dengan meminta calon guru menyelidiki masalah Biologi yang berdampak langsung pada komunitas mereka—misalnya, studi tentang resistensi antibiotik di pasar tradisional atau efektivitas pupuk kompos buatan sendiri—kita menanamkan rasa tanggung jawab ilmiah. Hal ini berbeda sekali dengan melakukan penelitian tentang Drosophila hanya demi memenuhi syarat kelulusan. Guru-guru yang tumbuh dalam ekosistem TPASK-C adalah mereka yang kelak mampu membimbing siswa mereka untuk menggunakan sains sebagai alat pemberdayaan masyarakat, seperti yang diutarakan dalam banyak literatur pendidikan progresif yang menekankan sains berbasis masalah. Mereka bukan lagi sekadar penyalur informasi, tetapi agen perubahan yang terlatih untuk berpikir kritis dan bertindak berdasarkan bukti.

Mengakhiri perjalanan ini, model TPASK-C bukan sekadar kurikulum; ia adalah filosofi pelatihan. Ia menyuntikkan keberanian dan kemampuan analitis langsung ke dalam DNA profesional seorang calon guru. Guru Biologi masa depan harus meninggalkan citra sebagai pembaca buku teks yang berdebu. Mereka harus menjadi ilmuwan-praktisi yang percaya diri, yang efikasi dirinya dipupuk oleh keberhasilan merancang dan melaksanakan penelitian yang berdampak, dan yang keterampilan penelitiannya diasah melalui tantangan kontekstual yang relevan. Jika kita ingin kelas Biologi menjadi sumber keajaiban dan penyelidikan, bukan tempat tidur siang, maka investasi pada model praktikum TPASK-C adalah keharusan yang tak terbantahkan. Guru yang yakin pada kemampuan risetnya sendiri akan menularkan virus rasa ingin tahu yang tak terhentikan kepada generasi siswa berikutnya.

Scroll to Top